Jawaban Kepada Orang Yang Berkata: Uhibbuka Fillaah

Beberapa Adab Dan Keutamaan
#umum

أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ

Ahabbakal-ladzii ahbabtanii lahu.

Semoga Allah mencintaimu, karena engkau telah mencintaiku karena-Nya.

HR. Abu Dawud 4/333. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih Sunan Abi Dawud 3/965. Sumber: Hisnul Muslim.

Doa Lain dengan Kategori 'Beberapa Adab Dan Keutamaan'

Pujian Kepada Allah Sebelum Berdoa

HR. Abu Dawud, An-Nasa-i dan At-Tirmidzi. Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “shahih”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang berdoa: (doa di atas), lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan menggunakan Nama-Nya yang jika Dia dimintai dengan nama tersebut, Dia pasti memberi, dan jika Dia diseru dengan nama tersebut, Dia pasti mengabulkan.” Bisa juga dengan cara menyebut nama-nama Allah yang sesuai dengan isi doa yang kita sampaikan. Misalnya, kita mohon ampunan maka kita menyebut nama Allah “Al-Ghaffar” atau “Al-Ghafur” (yang Maha Pengampun). Sumber: http://bbg-alilmu.com/archives/19074 dan https://konsultasisyariah.com/4677-bagaimana-cara-memuji-allah-dan-bersalawat-sebelum-berdoa.html

Doa Bersin

Lantas saudara atau temannya mengucapkan: يَرْحَمُكَ اللَّهُ Yarhamukallaah. Semoga Allah memberi rahmat kepadaMu. Bila teman atau saudaranya mengucapkan demikian, bacalah: يَهْدِيْكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ Yahdiikumullaahu wa yushlihu baalakum. Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu dan memperbaiki keadaanmu. HR. Al-Bukhari 7/125. Sumber: Hisnul Muslim.

Doa Bila Orang Kafir Bersin Lalu Memuji Allah

HR. At-Tirmidzi 5/82, Ahmad 4/400, Abu Daud 4/308. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 2/354. Sumber: Hisnul Muslim.

Doa Kepada Orang Yang Berbuat Baik Kepadamu

HR. At-Tirmidzi 2035, lihat Shahihul Jami' 6244, Shahih At-Tirmidzi 2/200. Usamah bin Zaid berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang dibuatkan kepadanya kebaikan, lalu ia mengatakan kepada pelakunya: (doa di atas), maka sungguh ia telah benar-benar meninggikan pujian." HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami', no. 6368. Sumber: Hisnul Muslim dan http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jazakallah-khoiron-membalas-orang-lain-yang-berbuat-baik.html

Jawaban Kepada Orang Yang Berkata: Ghafarallaahu Laka

HR. Ahmad 5/82, An-Nasa'i dalam 'Amalul Yaum wal Lailah halaman 218, no. 421. Sumber: Hisnul Muslim.

Jawaban Kepada Orang Yang Berkata: Uhibbuka Fillaah

HR. Abu Dawud 4/333. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih Sunan Abi Dawud 3/965. Sumber: Hisnul Muslim.

Jawaban Kepada Orang Yang Berkata: Baarakallaahu Fiika

Ibnu Sunni h. 138, no. 278, lihat Al-Waabilush Shayyib Iibnil Qayyim, hal. 304. Tahqiq Muhammad Uyun. Sumber: Hisnul Muslim.

Doa Kepada Orang Yang Anda Caci

HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 11/171, Muslim 4/2007, dan kalimatnya: "Jadikanlah sebagai pembersih dan rahmat." Sumber: Hisnul Muslim.

Doa Bila Dipuji Orang

HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761. Isnad hadits tersebut dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 585. Kalimat dalam kurung tambahan Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman 4/228 dari jalan lain. Sumber: Hisnul Muslim.

Doa Ketika Marah

HR. Al-Bukhari 7/99, Muslim 4/2015. Sumber: Hisnul Muslim.

Bacaan Ketika Takut

HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 6/181, Muslim 4/2208. Sumber: Hisnul Muslim.

Jawaban Kepada Orang Kafir Yang Mengucapkan Salam

HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 11/42, Muslim 4/1705. "Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepadamu, jawablah: (jawaban di atas)." Sumber: Hisnul Muslim.

Ucapan Ketika Melihat Kemungkaran

Keterangan: Sebuah kemungkaran, baik perkataan maupun perbuatan, dimaknai sebagai hal-hal yang bertentangan dengan syariat atau hal-hal lain yang mengganggu orang-orang beriman. Ada banyak dalil yang diungkapkan para ulama tentang ucapan tasbih ketika terjadinya kemungkaran. Salah satunya adalah dalam surat An-Nur: 16 yang mengisahkan kisah al-Ifku, yaitu berita dusta tentang perzinahan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Allah berfirman, “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.’” [1] Al-Baghawiy dalam tafsirnya menyebutkan, “Bahwa lafadz ‘subhaanaka’ dalam ayat bermakna ‘ta’ajjub’/heran.” [2] Imam Al-hafizh Ibnu Katsir menuturkan, “Yaitu Maha Suci Allah ketika ungkapan (dusta) ditujukan kepada Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus istri dari kekasih Allah.” [3] Apa yang diungkapkan oleh Ahlu al-Ifki, sebutan bagi mereka yang menyebarkan berita bohong terhadap ‘Aisyah, merupakan kemungkaran yang besar, oleh karena itu disyariatkan mengucapkan tasbih ketika mendengarnya. Ini sebagai penyucian kepada Allah karena kedustaan yang menimpa keluarga nabi. [4] Lisan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha Yang Bertasbih Jauh sebelum ayat itu turun, ketika mendengar gosip dan kedustaan yang dipublikasikan oleh ahlul ifki saat itu, Aisyah pun bertasbih sambil menuturkan, “Subhaanallah, orang-orang telah membicarakan ini?” [5] Sebagian Sahabat Juga Bertasbih Ketika mendengar kedustaan ini, para sahabat juga bertasbih kepada Allah. Mereka bertutur, “Subhaanallah, tidak pantas bagi kami membicarakan ini. Ini adalah kedustaan yang besar.” [6] Ungkapan para sahabat ini menegaskan bahwa ungkapan “subhaanallah” adalah sebagai pelajaran bagi kaum muslimin untuk memuliakan, memuji dan mengagungkan Allah ketika mendengar ungkapan mungkar lagi dusta tentang kaum muslimin lainnya. Para ulama, dari hadits ‘Aisyah tentang kisah al-Ifk, menyebutkan salah satu faidah bahwa disyari’atkan mengucapkan tasbih ketika ta’ajjub/heran terhadap terjadinya kemungkaran atau mendengar hal-hal yang dusta. [7] [1] An-Nur [24]: 16. [2] Lihat Tafsir al-Baghawiy hal 26 jilid 6, al-Maktabah asy-Syamilah. [3] Lihat Tafsir Ibn Katsir hal 29 jilid 6, al-Maktabah asy-Syamilah. [4] Lihat kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah, hal 24 Jilid 2. [5] Potongan hadits panjang tentang kisah tuduhan dusta terhadap ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha diriwayatkan Bukhari dan Muslim. [6] Fath al-Baari hal 470 jilid 4. Dikutip dari kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah, hal 25 Jilid 2. Sumber: https://muslim.or.id/21710-mengucapkan-subhanallah-ketika-melihat-kemungkaran.html