Khutbah Hajah (Doa Pembuka Majelis)

Doa Terkait Majelis
#umum

إِنَّ الْحَمْدَ ِللَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Innal hamdalillaah, nahmaduhu, wa nasta'iinuhu, wa nastagh-firuh. Wa na'uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyi-aati a'maalinaa. Man yahdihillaahu falaa mudhilla lah, wa man yudh-lil falaa haadiya lah. Wa asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rosuuluh. Yaa ayyuhal-ladziina aamanut-taqullaaha haqqo tuqootih, wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun. Yaa ayyuhan-naasut-taquu robbakumul-ladzii kholaqokum min nafsin waahidah, wa kholaqo minhaa zaujahaa, wa bats-tsa minhumaa rijaalan katsiiron wa nisaa-a. Wat-taqullaahal-ladzii tasaa-aluuna bihi wal arhaam. Innallaaha kaana 'alaikum roqiibaa. Yaa ayyuhal-ladziina aamanut-taqullaaha wa quuluu qoulan sadiidaa. Yush-lih lakum a'maalakum, wa yagh-fir lakum dzunuubakum. Wa man yuthi'illaaha wa rosuulahu faqod faaza fauzan 'azhiimaa. Ammaa ba'du, fa-inna ash-daqol hadii-tsi kitaabullaah, wa khoirol hadyi, hadyu muhammadin shollallaahu 'alaihi wa sallam. Wa syarrol umuuri muhda-tsaatuhaa, wa kulla muhda-tsatin bid'ah, wa kulla bid'atin dholaalah, wa kulla dholaalatin fin-naar.

Segala puji hanya bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali 'Imran [3]: 102). Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An-Nisaa' [4]: 1). Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al-Ahzaab [33]: 70-71). Adapun selanjutnya, sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Quran), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap yang diada-adakan itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Hadits shahih. Shahih Nasa'i no. 1331, Muslim II: 592 no. 467 dan Nasa'i III: 188. Kapan Khutbah Ini Diucapkan? Pengantar khotbah ini diucapkan ketika ada hajat dan kebutuhan yang hendak disampaikan. Di antaranya adalah ketika hendak melakukan akad nikah atau menyampaikan khotbah jumat. Terdapat keterangan lain, sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut: Syu’bah bertanya kepada gurunya, Abu Ishaq, “Apakah ini khusus untuk khutbah nikah atau boleh dibaca pada kesempatan lain?” Jawab Abu Ishaq, “Diucapkan pada setiap acara yang penting.” (Sunan Al-Kubra, karya Al-Baihaqi, no. 13604). Syu’bah bin Hajjaj adalah salah satu perawi hadis yang menyebutkan tentang khutbatul hajah. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah berkata, “…Sesungguhnya khutbah ini dibaca sebagai pembuka setiap khutbah, apakah khutbah nikah, atau khutbah Jumat, atau yang lainnya (seperti ceramah, mengajar dan yang lainnya-pent.), tidak khusus untuk khutbah nikah saja, sebagaimana disangka oleh sebagian orang…” (Khutbatul Hajah (hal. 36), cet. I/ Maktabah al-Ma’arif). Sumber: https://almanhaj.or.id/1348-akad-nikah-khutbah-nikah-mahar-maskawin.html, https://almanhaj.or.id/3230-syarat-rukun-dan-kewajiban-dalam-aqad-nikah.html dan https://khotbahjumat.com/mukaddimah-khutbah-jumat

Doa Lain dengan Kategori 'Doa Terkait Majelis'

Khutbah Hajah (Doa Pembuka Majelis)

Hadits shahih. Shahih Nasa'i no. 1331, Muslim II: 592 no. 467 dan Nasa'i III: 188. Kapan Khutbah Ini Diucapkan? Pengantar khotbah ini diucapkan ketika ada hajat dan kebutuhan yang hendak disampaikan. Di antaranya adalah ketika hendak melakukan akad nikah atau menyampaikan khotbah jumat. Terdapat keterangan lain, sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut: Syu’bah bertanya kepada gurunya, Abu Ishaq, “Apakah ini khusus untuk khutbah nikah atau boleh dibaca pada kesempatan lain?” Jawab Abu Ishaq, “Diucapkan pada setiap acara yang penting.” (Sunan Al-Kubra, karya Al-Baihaqi, no. 13604). Syu’bah bin Hajjaj adalah salah satu perawi hadis yang menyebutkan tentang khutbatul hajah. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah berkata, “…Sesungguhnya khutbah ini dibaca sebagai pembuka setiap khutbah, apakah khutbah nikah, atau khutbah Jumat, atau yang lainnya (seperti ceramah, mengajar dan yang lainnya-pent.), tidak khusus untuk khutbah nikah saja, sebagaimana disangka oleh sebagian orang…” (Khutbatul Hajah (hal. 36), cet. I/ Maktabah al-Ma’arif). Sumber: https://almanhaj.or.id/1348-akad-nikah-khutbah-nikah-mahar-maskawin.html, https://almanhaj.or.id/3230-syarat-rukun-dan-kewajiban-dalam-aqad-nikah.html dan https://khotbahjumat.com/mukaddimah-khutbah-jumat

Doa Dalam Majelis

HR. At-Tirmidzi dan Imam hadis lain, lihat pula di Shahih At-Tirmidzi 3/153, Shahih Ibnu Majah 2/321, dan lafal hadis tersebut menurut riwayat At-Tirmidzi. Dari Ibnu Umar katanya: adalah pernah dihitung bacaan Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam dalam satu majelis 100x sebelum beliau berdiri, yaitu: (doa di atas). Sumber: Hisnul Muslim.

Doa Penceramah/Pembicara Kepada Dirinya Dan Peserta Majelis

HR. At-Tirmidzi no. 3502, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Jarang sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dari suatu majelis sampai beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya: (doa di atas).”

Doa Kafaratul Majelis (Penghapus Dosa Majelis)

HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. HR. Tirmidzi no. 3433. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak senda guraunya (kalimat yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya), maka hendaklah ia mengucapkan sebelum bangun dari majelisnya itu: (doa di atas), maka diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu.” Doa ini disebut sebagai doa Kafaratul Majelis (penghapus dosa majelis) atau Khatimah Majelis (penutup majelis), karena doa ini menjadi penghapus dosa bagi orang yang ikut duduk dalam majelis itu. Doa ini menjadi penghapus dosa, karena isinya pengakuan terhadap tauhid dan permohonan ampun kepada Allah. Ibnu Rajab mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri majelis beliau dengan doa kafaratul majelis dan beliau perintahkan agar semua majelis diakhiri dengan doa itu. Beliau juga mengabarkan, bahwa jika majelis itu sia-sia maka doa ini menjadi kafarah baginya. Doa ini juga diriwayatkan dari sekelompok sahabat.” (Fathul Bari, 3/345). Doa ini diucapkan ketika akan berpisah atau akan selesai dari suatu majelis. Majelis ini tidak mesti dengan duduk-duduk. Pokoknya setiap pembicaraan atau obrolan biasa apalagi diyakini ada perkataan sia-sia yang terucap, maka doa kafaratul majelis sangat dianjurkan untuk dibaca. Jika suatu majelis atau tempat obrolan yang membicarakan hal akhirat maupun hal dunia, lantas di dalamnya tidak terdapat dzikir pada Allah, sungguh sangat merugi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2: 389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Tentu kita tidak mau menjadi orang yang merugi dalam setiap waktu kita. Karenanya, jadikanlah akhir majelis dengan istighfar dan bacaan doa kafaratul majelis. Hadits lain terkait doa ini: Dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ketika di akhir (pertemuan) ketika beliau akan bangun dari majelis: (doa di atas). Lantas ada seseorang yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan ucapan yang belum pernah engkau ucapkan sebelumnya.’ Beliau menjawab, ‘Itu adalah kafarat bagi dosa yang terjadi selama di dalam majelis.’ (HR. Abu Daud, Al-Hakim Abu ‘Abdillah dalam Al-Mustadrak dari riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan ia mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih). [HR. Abu Daud no. 4859, Ahmad 4:425. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan]. Sumber: https://rumaysho.com/17134-doa-kafaratul-majelis.html, https://rumaysho.com/13241-keutamaan-doa-kafaratul-majelis.html dan https://konsultasisyariah.com/24008-baca-dzikir-ini-agar-tidak-menyesal.html